Minggu, 05 Mei 2013

PENYAKIT MALARIA


MAKALAH
MEDICAL SCIENE
“MALARIA”
Dosen Pengampu :  Arfiana, S.Kep.Ns









Disusun Oleh :

Kelompok 4

MARNAAM                                     (P.174.24.212.021)
MEGA PRAMUDYA .W                (P.174.21.212.022)
NADYATUL FEBRIANA              (P.174.24.212.023)
NUNGKY DWI SUSANTI                         (P.174.24.212.025)


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SEMARANG
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN MAAGELANG
2012


KATA PENGANTAR

            Puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SAW, yang telah melimpahkan Rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga Makalah ini dapat penyusun selesaikan dengan lancar. Makalah ini penulis susun untuk memenuhi tugas Medical Sciene yang membahas tentang malaria.
            Penyusun menyadari bahwa dalam penyelesaian makalah ini, penyusun banyak mendapat bimbingan, nasihat serta bantuan dari berbagai pihak. Berkaitan dengan hal tersebut, penyusun menghaturkan banyak terima kasih kepada :
1.      Dosen Mata Kuliah Arfiana,S.Kep.Ns
2.      Bapak, Ibu, Kakak dan Adik tercinta yang senantiasa memberikan dorongan semangat dan do’a dalam mencapai keberhasilan.
3.      Teman-teman satu kelompok yang telah bekerja sama dalam penyelesaian makalah ini.
4.      Teman-teman kelas Sakura dan teman-teman satu angkatan yang penyusun cintai dan membantu dalam penyelesain makalah ini.
5.      Dan seluruh pihak yang tidak bisa penyusun sebutkan satu persatu yang telah membantu penyusun dalam menyelesaikan makalah ini.
            Penyusun menyadari bahwa makalah ini tentu tidak lepas dari kekurang sempurnaan, untuk itu masukan dari para pembaca sangat penyusun harapkan.
            Akhirnya penyusun berharap semoga makalah ini memberikan manfaat bagi perkembangan kesehatan Indonesia.

                                                                        Magelang, Maret September 2013


                                                                                    Penyusun








DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.........................................................................................i

KATA PENGANTAR.......................................................................................ii

DAFTAR ISI......................................................................................................iii

BAB 1. PENDAHULUAN
            A. Latar Belakang...................................................................................1
            B. Tujuan Penyusunan............................................................................1
            C. Metode Peyusunan.............................................................................1

BAB II. PEMBAHASAN
A.    Pengertian Penyakit Malaria.............................................................3
B.     Penyebab Penyakit Malaria..............................................................3
C.     Tanda dan Gejala Penyakit Malaria.................................................7
D.    Patofisiologi Penyakit Malaria.........................................................9
E.     Pemeriksaan Penunjang Penyakit Malaria........................................11
F.      Penatalaksanaan dan Pencegahan Penyakit Malaria.........................16
BAB III. PENUTUP
A.    Simpulan
B.     Saran

DAFTAR PUSTAKA














BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Di Indonesia, sampai saat ini penyakit malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Angka kesakitan penyakit ini masih cukup tinggi, terutama di daerah luar Jawa dan Bali, dimana terdapat campuran penduduk  yang brasal dari daerah endemis dan yang tidak endemis malaria. Di dearah-dearah tersebut masih sering terjadi letusan wabah yang menimbulkan banyak kematian.
            Malaria adalah penyakit infeksi akut maupun kronis yang disebabkan oleh plasmodium malaria dengan demam yang rekren, anemia dan hepatosplenomegali. Sampai saat ini di Indonesia dikenal 4 macam (spesies) parasit malaira yaitu plsmodium falciparum yang menyebabkan malaria tropika, vivax yang menyebabkan malaria ovale.
Seorang penderita dapat dihinggapi lebih dari satu jenis plasmodium. Infeksi demikian disebut infeksi campuran (mixed infection). Biasanya paling banyak dua jenis penyakit, yakni campuran abtara falciparum dan vivax atau malariae. Kadang-kadang dijumpai tiga jenis parasit sekaligus, meskipun hal ini jarang sekali terjadi. Infeksi campuran biasanya terdapat didaerah yang tinggi angka penularannya.

B.     Tujuan Penulisan
Tujuan penyusunan makalah ini meliputi tujuan umum dan tujuan khusus.
1.      Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Medical Sciene ”Malaria”.
2.      Tujuan Khusus
a.       Mengetahui dan memahami pengertian penyakit malaria
b.      Mengetahui dan memahami penyebab penyakit malaria.
c.       Mengetahui dan memahami tanda dan gejala penyakit malaria
d.      Mengetahui dan memahami patofisiologi penyakit malaria.
e.       Mengetahui dan memahami pemeriksaan penjang penyakit malaria.
Mengetahui dan memahami penatalaksanaan dan pencegahan penyakit malaria.

C.    Metode Penyusunan
Metode pengumpulan data yaitu suatu cara pengumpulan bahan untuk dijadikan suatu makalah atau laporan agar data yang terkumpul mampu memberikan penegasan pada makalah tersebut.
Dalam menyusun makalah ini penyusun menggunakan metode :
1.      Studi Kepustakaan
Yaitu mencari sumber informasi melalui bebera[a sumber yang bersal dari beberapa refernsi atau literatur yang dijadikan landasan teori yang ada kaitannya dengan masalah yang penyusun bahas.
2.      Metode Via Internet
Penyusun melakukan browsing menggunakan jasa telekomunikasi yaitu internet dalam mencari materi

























BAB II
PEMBAHASAN

A.            Pengertian Penyakit Malaria
Malaria adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang kemudian menyerang sel-sel darah merah.Kata malaria sendiri berasal dari bahasa Italia mala aria yang berarti “udara buruk”. Kata malaria pertama kali digunakan dalam bahasa Inggris tahun 1740 oleh H. Walpole.dengan gambaran penyakit berupa demam yang sering periodik, anemia, pembesaran limpa dan berbagai kumpulan gejala oleh karena pengaruhnya pada beberapa organ misalnya otak, hati dan ginjal . Penyakit ini menyerang semua kalangan baik laki-laki ataupun perempuan, pada semua umur dari bayi, anak-anak sampai orang dewasa.Hanya Anopheles betina yang menghisap darah dan membawa Sporozoit Plasmodium dalam kelenjar ludahnya yang menyebabkan Malaria.



Gambar. Anopheles Betina
Penyakit malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh plasmodium falsifarum, plasmodium vivax, plasmodium malariae, plasmodium ovale dan yang mix atau campuran yang penularannya melalui gigitan nyamuk anopheles betina (Kemenkes,2011)
B.     Penyebab Penyakit Malaria
Penyebab penyakit malaria adalah parasit plasmodium yang terdapat pada nyamuk anopheles. setidaknya ada empat type plasmodium yang dapat meng-infeksi manusia:
a.  plasmodium falciparum.
menimbulkan malaria falsifarum (malaria tertiana berat), sebagai penyebab malaria akut yang menyebabkan kematian di seluruh dunia dengan angka sekitar 90% dari total kematian akibat penyakit malaria di seluruh dunia. Masa inkubasi pada penularan secara alamiah plasmodium falciparum adalah 12 hari.
b.  plasmodium vivax,
menimbulkan malaria vivax (malaria tertiana ringan), plasmodium vivax paling sering ditemukan dalam kasus penyakit malaria di seluruh dunia. Masa inkubasi pada penularan secara alamiah plasmodium vivax  adalah 13-17  hari
c.  plasmodium ovale
jenis ini jarang sekali dijumpai di Indonesia, karena umumnya banyak  kasusnya terjadi di Afrika dan Pasifik Barat. Masa inkubasi pada   penularan secara alamiah plasmodium ovale adalah 13-17 hari.
 d.  Plasmodium malaria penyebab malaria quartana dan Masa inkubasi pada  
      penularan secara alamiah plasmodium malariae adalah 28-30 hari.
            Serangan demam yang pertama didahului oleh masa inkubasi (intrinsik). Masa inkubasi ini bervariasi antara 9-30 hari tergantung : jenis spesies parasit, intesitas infeksi, pengobatan yang pernah didapat sebelumnya, tingkat imunutas penderita dan cara penularan.
Nyamuk anopheles akan membawa parasit dalam tubuhnya selama satu minggu sampai waktu makan selanjutnya .
Pada manusia, parasit tersebut bermigrasi ke hati di mana mereka mulai bereproduksi berlanjut ke aliran darah, diamana ia menginfeksi sel darah merah, yang merusak sel dan melepaskan parasit lebih ke dalam aliran darah.Parasit sebagai penyebab penyakit malaria berkembang biak di dalam sel darah merah, yang kemudian pecah dalam waktu 48 sampai 72 jam, menginfeksi sel darah merah. Gejala pertama biasanya terjadi 10 hari sampai 4 minggu setelah infeksi, meskipun mereka dapat muncul pada awal 8 hari atau selama setahun kemudian. Kemudian gejala yang terjadi pada siklus 48 sampai 72 jam.
Penyakit malaria yang tinggal di dalam sel darah merah dapat juga ditularkan melalui transfusi darah, jarum suntik yang telah terkontaminasi, atau transplantasi organ. Penyakit malaria juga dapat ditularkan oleh ibu hamil kepada bayinya.

Siklus Hidup Plasmodium Penyebab Malaria
1.      Siklus Hidup Plasmodium, Siklus aseksual
Sporozoit infeksius dari kelenjar ludah nyamuk anopheles betina dimasukkan kedalam darah manusia melalui tusukan nyamuk tersebut. Dalam waktu tiga puluh menit jasad tersebut memasuki sel-sel parenkim hati dan dimulai stadium eksoeritrositik dari pada daur hidupnya. Didalam sel hati parasit tumbuh menjadiskizon dan berkembang menjadi merozoit (10.000-30.000 merozoit, tergantung spesiesnya) . Sel hati yang mengandung parasit pecah dan merozoit keluar dengan bebas, sebagian di fagosit. Oleh karena prosesnya terjadi sebelum memasuki eritrosit maka disebut stadium preeritrositik atau eksoeritrositik yang berlangsung selama 2 minggu. Pada P. Vivax dan Ovale, sebagian tropozoit hati tidak langsung berkembang menjadi skizon, tetapi ada yang menjadi bentuk dorman yang disebut hipnozoit. Hipnozoitdapat tinggal didalam hati sampai bertahun-tahun. Pada suatu saat bila imunitas tubuh menurun, akan menjadi aktif sehingga dapat menimbulkan relaps (kekambuhan).
Siklus eritrositik dimulai saat merozoit memasuki sel-sel darah merah. Parasit tampak sebagai kromatin kecil, dikelilingi oleh sitoplasma yang membesar, bentuk tidak teratur dan mulai membentuk tropozoit, tropozoit berkembang menjadi skizon muda, kemudian berkembang menjadi skizon matang dan membelah banyak menjadi merozoit. Dengan selesainya pembelahan tersebut sel darah merah pecah dan merozoit, pigmen dan sisa sel keluar dan memasuki plasma darah. Parasit memasuki sel darah merah lainnya untuk mengulangi siklus skizogoni. Beberapa merozoit memasuki eritrosit dan membentuk skizondan lainnya membentuk gametosit yaitu bentuk seksual (gametosit jantan dan betina) setelah melalui 2-3 siklus skizogoni darah.

2.      Siklus Hidup Plasmodium, Siklus seksual
Terjadi dalam tubuh nyamuk apabila nyamuk anopheles betina menghisap darah yang mengandunggametosit. Gametosit yang bersama darah tidak dicerna. Pada makrogamet (jantan) kromatin membagi menjadi 6-8 inti yang bergerak kepinggir parasit. Dipinggir ini beberapa filamen dibentuk seperti cambuk dan bergerak aktif disebut mikrogamet. Pembuahan terjadi karena masuknya mikrogamet kedalam makrogamet untuk membentuk zigot. Zigot berubah bentuk seperti cacing pendek disebut ookinet yang dapat menembus lapisan epitel dan membran basal dinding lambung. Ditempat ini ookinet membesar dan disebut ookista. Didalam ookista dibentuk ribuan sporozoit dan beberapa sporozoit menembus kelenjar nyamuk dan bila nyamuk menggigit/ menusuk manusia maka sporozoit masuk kedalam darah dan mulailah siklus pre eritrositik.
















                                                   Siklus Hidup Plasmodium Malaria

                           CARA PENULARAN
              Malaria dapat ditularkan dengan brbagai cara yang pada umumnya dibagi menjadi alamiah dan tidak alamiah  :.
1.  Penularan secara Alamaiah (Natural Infection) yaitu melalui gigitan nyamuk anopheles .
2.  Penularan tidak Alamiah di bagi atas :
a.       Malaria bawaan /congenital, terjadi pada bayi yang baru dilahirkan karena ibunya menderita penyakit malaria. Penularan terjadi melalui tali pusat atau plasenta.
b.      Secara Mekanik, terjadi melalui transfusi darah atau jarum suntik. Penularan melalui jarum suntik banyak terjadi pada para morfinis yang mengggunakan jarum suntik yang tidak steril.
c.       Secara Oral, cara penularan ini pernah dibuktikan pada ayam (plasmodium gallinasium), burung dara (plasmodium relaction), dan monyet (plasmodium knowlesi).


Tanda-Tanda Nyamuk Malaria
Bila hinggap/menggigit letak kepala lebih rendah dibanding badannya (menungging)
d.     
Bahaya Penyakit Malaria
- Anemia (kekurangan darah) karena sel-sel darah merah banyak yang hancur, dirusak atau dimakan oleh parasit
- Pada ibu hamil, penyakit malaria dapat menyebabkan gangguan pada ari/plasenta.
- Pembuluh darah otak penderita dapat tersumbat sehingga menjadi gila atau meninggal.
- Dan lain-lainBrosur di keluarkan oleh : Public Health & Malaria Control Departement PT. Freeport Indonesia.

C.     Tanda dan Gejala Penyakit Malaria
  Menurut berat-ringannya tanda-tanda dan gejalanya, gejala malaria dapat dibagi menjadi 2 jenis:
1.       Gejala malaria ringan (malaria tanpa komplikasi)
Meskipun disebut malaria ringan, sebenarnya gejala yang dirasakan penderitanya cukup menyiksa. Gejala malaria yang utama  yaitu: demam dan menggigil, juga dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare, nyeri otot atau pegal-pegal. Gejala-gejala yang timbul dapat bervariasi tergantung daya tahan tubuh penderita dan gejala spesifik dari mana parasit berasal. Gejala malaria ini terdiri dari tiga stadium berurutan yang disebut trias malaria, yaitu :
a.  Stadium dingin (cold stage)
berlangsung kurang kebih 15 menit sampai dengan 1 jam. Dimulai dengan menggigil dan perasaan sangat dingin, gigi gemeretak, denyut nadi cepat tetapi lemah, bibir dan jari-jari pucat kebiru-biruan (sianotik), kulit kering dan terkadang disertai muntah.

b.      Stadium demam (hot stage)

berlangsung lebih dari 2 hingga 12 jam. Penderita merasa kepanasan (fever). Muka merah, kulit kering, sakit kepala dan sering kali mual muntah . Nadi menjadi kuat kembali, merasa sangat haus dan suhu tubuh dapat meningkat hingga 41o C atau lebih. Pada anak-anak, suhu tubuh yang sangat tinggi dapat menimbulkan kejang-kejang.
c.     Stadium berkeringat (sweating stage)
berlangsung lebih dar 2 hingga 4 jam. Penderita berkeringat sangat banyak. Suhu tubuh kembali turun, kadang-kadang sampai di bawah normal. Setelah itu biasanya penderita beristirahat hingga tertidur. Setelah bangun tidur penderita merasa lemah tetapi tidak ada gejala lain sehingga dapat kembali melakukan kegiatan sehari-hari. Gejala mungkin berupa koma atau pinsan, kejang-kejang sampai tidak berfungsinya ginjal. kadang-kadang gejalanya mirip kolera atau disentri.­

2.      Gejala malaria berat (malaria dengan komplikasi)
Penderita dikatakan menderita malaria berat bila di dalam darahnya ditemukan parasit malaria melalui pemeriksaan laboratorium Sediaan Darah Tepi atau Rapid Diagnostic Test (RDT) dan disertai memiliki satu atau beberapa gejala/komplikasi berikut ini:
a.       Gangguan kesadaran dalam berbagai derajat (mulai dari koma sampai penurunan kesadaran lebih ringan dengan manifestasi seperti: mengigau, bicara salah, tidur terus, diam saja, tingkah laku berubah).
b.       Keadaan umum yang sangat lemah (tidak bisa duduk/berdiri).
c.        Kejang-kejang.
d.       Panas sangat tinggi.
e.        Mata atau tubuh kuning.
f.        Tanda-tanda dehidrasi (mata cekung, turgor dan elastisitas kulit berkurang, bibir kering, produksi air seni berkurang) Perdarahan hidung, gusi atau saluran pencernaan.
g.        Nafas cepat atau sesak nafas
Mayoritas gejala disebabkan oleh rilis besar merozoit ke dalam aliran darah, anemia akibat penghancuran sel darah merah, dan masalah yang disebabkan oleh sejumlah besar hemoglobin bebas dilepaskan ke sirkulasi setelah sel darah merah pecah.

D.    Patofisiologi Penyakit Malaria
Patofisiologi pada malaria belum diketahui dengan pasti. Berbagai macam teori dan hipotesis telah dikemukakan. Perubahan patofisiologi pada malaria terutama berhubungan dengan gangguan aliran darah setempat sebagai akibat melekatnya eritrosit yang mengandung parasit pada endotelium kapiler. Perubahan ini cepat reversibel pada mereka yang dapat tetap hidup (survive). Peran beberapa mediator humoral masih belum pasti, tetapi mungkin terlibat dalam patogenesis terjadinya demam dan peradangan. Skizogoni eksoeritrositik mungkin dapat menyebabkan reaski leukosit dan fagosit, sedangkan sporozoit danzgametositztidakzmenimbulkanzperubahanzpatofisiologik.

Patofisiologi malaria adalah multifaktorial dan mungkin berhubungan dengan hal-halzsebagaizberikut:
a.      Penghancuran eritrosit.
Penghancuran eritrosit ini tidak saja dengan pecahnya eritrosit yang mengandung parasit, tetapi juga oleh fagositosis eritrosit yang mengandung parasit dan yang tidak mengandung parasit, sehingga menyebabkan anemia dan anoksia jaringan. Dengan hemolisis intra vaskular yang berat, dapat terjadi hemoglobinuria (blackwater fever) dan dapat mengakibatkan gagal ginjal.
b.      Mediator endotoksin-makrofag.
Pada saat skizogoni, eritrosit  yang mengandung parasit memicu makrofag yang sensitif endotoksin untuk melepaskan berbagai mediator yang berperan dalam perubahan patofisiologi malaria. Endotoksin tidak terdapat pada parasit malaria, mungkin berasal dari rongga saluran cerna. Parasit malaria itu sendiri dapat melepaskan faktor neksoris tumor (TNF). TNF adalah suatu monokin , ditemukan dalam darah hewan dan manusia yang terjangkit parasit malaria. TNF dan sitokin lain yang berhubungan, menimbulkan demam, hipoglimeia dan sindrom penyakit pernafasan pada orang dewasa (ARDS = adult respiratory distress syndrome) dengan sekuestrasi sel neutrofil dalam pembuluh darah paru. TNF dapat juga menghancurkan plasmodium falciparum in vitro dan dapat meningkatkan perlekatan eritrosit yang dihinggapi parasit pada endotelium kapiler. Konsentrasi TNF dalam serum pada anak dengan malaria falciparum akut berhubungan langsung dengan mortalitas, hipoglikemia, hiperparasitemia dan beratnya penyakit.
c.       Sekuestrasi eritrosit yang terinfeksi.
Eritrosit yang terinfeksi plasmodium falciparum stadium lanjut dapat membentuk tonjolan-tonjolan (knobs) pada permukaannya. Tonjolan tersebut mengandung antigen malaria dan bereaksi dengan antibodi malaria dan berhubungan dengan afinitas eritrosit yang mengandung plasmodium falciparum terhadap endotelium kapiler darah dalam alat dalam, sehingga skizogoni berlangsung di sirkulasi alat dalam, bukan di sirkulasi perifer. Eritrosit yang terinfeksi, menempel pada endotelium kapiler darah dan membentuk gumpalan (sludge) yang membendung kapiler dalam alam-alat dalam.
             Protein dan cairan merembes melalui membran kapiler yang bocor (menjadi permeabel) dan menimbulkan anoksia dan edema jaringan. Anoksia jaringan yang cukup meluas dapat menyebabkan kematian. Protein kaya histidin P. falciparum ditemukan pada tonjolan-tonjolan tersebut, sekurang-kurangnya ada empat macam protein untuk sitoaherens eritrosit yang terinfeksi plasmodium P. falciparum.

Tahap Perkembangan Penyakit Malaria,
1.      Tahap exoeriyhrocitic adalah tahap dimana terjadinya infeksi pada sistem hati (liver) manusia yang disebabkan oleh parasit plasmodium,
2.      tahap erithrocitic adalah tahap terjadinya infeksi pada sel darah merah (eritrosit).
Setelah masuk melalui darah dan sampai di sistem hati manusia, parasit ini akan berkembang biak dengan cepat yang kemudian keluar dan menginfeksi sel darah merah, yang mana proses inilah yang menimbulkan timbulnya demam pada penderita malaria.
parasit plasmodium akan terus berkembang biak dalam sel darah merah yang kemudian keluar untuk menginfeksi sel darah merah lain yang masih sehat, hal inilah yang menyebabkan terjadinya gejala panas atau demam naik turun pada penderitazmalaria.
Walaupun sebenarnya sistem limpa manusia bisa menghancurkan sel darah merah yang terinfeksi oleh parasit, tetapi parasit plasmodium jenis falciparum dapat membuat sel darah merah menempel pada pembuluh darah kecil dengan cara melepaskan protein adhesif, sehingga dengan begini sel darah merah yang terinfeksi tidak dapat masuk kedalam sistem limpa untuk dihancurkan. Dengan kemampuan inilah plasmodium falciparum sering menjadi penyakit malaria akut, karena dengan kemampuan menempelkan sel darah merah yang telah terinfeksi di dinding pembuluh darah kecil secara simultan sehingga dapat menyumbat peredaran darah ke otak yang sering mengakibatkan kondisi koma pada penderita penyakit malaria.

                Lain halnya dengan sebagian parasit plasmodium jenis vivax atau ovale tidak mempunyai kecenderungan yang mematikan seperti plasmdium falciparum tetapi dengan kemampuan menghasilkan hipnosoites yang tetap aktif selama beberapa bulan bahkan tahun, sehingga penderita penyakit malaria yang disebabkan plasmodium ini sering mengalami malaria yang baru kambuh dan kambuh lagi selama beberapa bulan bahkan tahun setelah terinfeksi pertama kali, dan sangat sulit dibasmi secara tuntas dari dalam tubuh manusia terinfeksi.
E.     Pemeriksaan Penunjang Penyakit Malaria
a.       Pemeriksaan Laboratorium
·         tetes darah tebal/tipis ditemukan parasit malaria dalam eritrosit.
·         Pemeriksaanzserologis
Titer 1 : 64 pada indirect immunofluroscence
b.      Pemeriksaan khusus
·         PCR (polymerase chain reaction)
·         ELISA (Enzyme Linked Immonosorben Assay)
·         Radiommunoassay (RIA)
c.       Pemeriksaan penunjang untuk malaria berat
a)      Hb dan Ht
b)       hitung jumlah lekosit dan trombosit
c)       Kimia darah lain (gula darah, serum bilirubin, SGOT & SGPT, alkali fosfatase, albumin/globulin, ureum, kreatinin, natrium dan kalium, anaIisis gas darah
d)      EKG
e)       Foto toraks
f)        Analisa cairan cerebrospinal.
g)       Biakan darah dan uji serologi
h)      Urinalisis
i)        Darahzrutin

1.      Pemeriksaan tetes darah untuk malaria
Pemeriksaan mikroskopik darah tepi untuk menemukan adanya parasit malaria sangat penting untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan satu kali dengan hasil negative tidak mengenyampingkan diagnosa malaria. Pemeriksaan darah tepi tiga kali dan hasil negative maka diagnosa malaria dapat dikesampingkan. Adapun pemeriksaan darah tepi dapat dilakukan melalui :
a.      Tetesan preparat darah tebal.
Merupakan cara terbaik untuk menemukan parasit malaria karena tetesan darah cukup banyak dibandingkan preparat darah tipis. Sediaan mudah dibuat khususnya untuk studi di lapangan. Ketebalan dalam membuat sediaan perlu untuk memudahkan identifikasi parasit. Pemeriksaan parasit dilakukan selama 5 menit (diperkirakan 100 lapang pandangan dengan pembesaran kuat). Preparat dinyatakan negative bila setelah diperiksa 200 lapang pandangan dengan pembesaran 700-1000 kali tidak ditemukan parasit. Hitung parasit dapat dilakukan pada tetes tebal dengan menghitung jumlah parasit per 200 leukosit. Bila leukosit 10.000/ul maka hitung parasitnya ialah jumlah parasit dikalikan 50 merupakan jumlah parasit per mikro-liter darah.
b.      Tetesan preparat darah tipis.
Digunakan untuk identifikasi jenis plasmodium, bila dengan preparat darah tebal sulit ditentukan. Kepadatan parasit dinyatakan sebagai hitung parasit (parasite count), dapat dilakukan berdasar jumlah eritrosit yang mengandung parasit per 1000 sel darah merah. Bila jumlah parasit > 100.000/ul darah menandakan infeksi yang berat. Hitung parasit penting untuk menentukan prognosa penderita malaria. Pengecatan dilakukan dengan pewarnaan Giemsa, atau Leishman’s, atau Field’s dan juga Romanowsky. Pengecatan Giemsa yang umum dipakai pada beberapa laboratorium dan merupakan pengecatan yang mudah dengan hasil yang cukup baik.
2.       Tes Antigen : p-f test
Yaitu mendeteksi antigen dari P.falciparum (Histidine Rich Protein II). Deteksi sangat cepat hanya 3-5 menit, tidak memerlukan latihan khusus, sensitivitasnya baik, tidak memerlukan alat khusus. Deteksi untuk antigen vivaks sudah beredar dipasaran yaitu dengan metode ICT. Tes sejenis dengan mendeteksi laktat dehidrogenase dari plasmodium (pLDH) dengan cara immunochromatographic telah dipasarkan dengan nama tes OPTIMAL. Optimal dapat mendeteksi dari 0-200 parasit/ul darah dan dapat membedakan apakah infeksi P.falciparum atau P.vivax. Sensitivitas sampai 95 % dan hasil positif salah lebih rendah dari tes deteksi HRP-2. Tes ini sekarang dikenal sebagai tes cepat (Rapid test).
3.       Tes Serologi
Tes serologi mulai diperkenalkan sejak tahun 1962 dengan memakai tekhnik indirect fluorescent antibody test. Tes ini berguna mendeteksi adanya antibody specific terhadap malaria atau pada keadaan dimana parasit sangat minimal. Tes ini kurang bermanfaat sebagai alat diagnostic sebab antibody baru terjadi setelah beberapa hari parasitemia. Manfaat tes serologi terutama untuk penelitian epidemiologi atau alat uji saring donor darah. Titer > 1:200 dianggap sebagai infeksi baru ; dan test > 1:20 dinyatakan positif . Metode-metode tes serologi antara lain indirect haemagglutination test, immunoprecipitation techniques, ELISA test, radio-immunoassay.
4.      Pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction)
Pemeriksaan ini dianggap sangat peka dengan tekhnologi amplifikasi DNA, waktu dipakai cukup cepat dan sensitivitas maupun spesifitasnya tinggi. Keunggulan tes ini walaupun jumlah parasit sangat sedikit dapat memberikan hasil positif. Tes ini baru dipakai sebagai sarana penelitian dan belum untuk pemeriksaan rutin.

Diagnosis Malaria ( anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang laboratorium )

a.      Anamnesis

Padazanamnesiszsangatzpentingzdiperhatikan:
1. Keluhan utama: demam, menggigil, berkeringat dan dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegal-pegal
2. Riwayat berkunjung dan bermalam 1-4 minggu yang lalu ke daerah endemik malaria
3. Riwayat tinggal di daerah endemik malaria
4. Riwayat sakit malaria
5. Riwayat minum obat malaria satu bulan terakhir
6. Riwayat mendapat transfusi darah

7. riawayat pengobatan kuratip maupun preventip.

      b.Pemeriksaanzfisik
               1. Malaria tanpa komplikasi:
a. Demam (pengukuran dengan termometer ≥ 37,5°C)
b. Konjungtiva atau telapak tangan pucat
c. Pembesaran limpa (splenomegali)
d. Pembesaran hati (hepatomegali)
2. Malaria dengan komplikasi dapat ditemukan keadaan dibawah ini:
a. Gangguan kesadaran dalam berbagai derajat
b. Keadaan umum yang lemah (tidak bisa duduk/berdiri)
c. Kejang-kejang
d. Panas sangat tinggi
e. Mata atau tubuh kuning
Catatan : penderita tersangka malaria berat harus segera dirujuk untuk mendapat kepastian diagnosis secara mikroskopik dah penanganan Iebih lanjut.

c. Diagnosis Atas Dasar Pemeriksaan Laboratorium
1. Pemeriksaan dengan mikroskop
          Pemeriksaan sediaan darah (SD) tebal dan tipis di Puskesmas/Iapangan/rumah sakit untuk menentukan:
          a. Ada tidaknya parasit malaria (positif atau negatif).
          b. Spesies dan stadium plasmodium
          c. Kepadatan parasit
       Untuk penderita tersangka malaria berat perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
           a. Bila pemeriksaan sediaan darah pertama negatif, perlu diperiksa ulang  
setiap 6 jam sampai 3 hari berturut-turut.
           b. Bila hasil pemeriksaan sediaan darah tebal selama 3 hari berturut-turut
tidak ditemukan parasit maka diagnosis malaria disingkirkan.
3.      Pemeriksaan dengan tes diagnostik cepat (Rapid Diagnostic Test)
Mekanisme kerja tes ini berdasarkan deteksi antigen parasit malaria, dengan menggunakan metoda imunokromatografi, dalam bentuk dipstik Tes ini sangat bermanfaat pada unit gawat darurat, pada saat terjadi kejadian luar biasa dan di daerah terpencil yang tidak tersedia fasilitas lab serta untuk survey tertentu.
Hal yang penting lainnya adalah penyimpanan RDT ini sebaiknya dalam lemari es tetapi tidak dalam freezer pendingin.

Jenis pemeriksaan untuk penegakan diagnosis penyakit malaria ada beberapa, namun hingga saat ini metode yang masih dianggap sebagai standar emas (gold standart) adalah menemukan parasit Plasmodium dalam darah. Beberapa jenis metode pemeriksaan parasit Plasmodium ini diantaranya :
1.            Pemeriksaan mikroskopis.
Pemeriksaan mikroskopis ini dilakukan untuk menemukan parasit Plasmodium secara visual dengan melakukan identifikasi langsung pada sediaan darah penderita. Pemeriksaan mikroskopis ini sangat bergantung pada keahlian pranata laboratorium (analis kesehatan) yang melakukan identifikasi. Teknik pemeriksaan inilah yang masih menjadi standar emas dalam penegakan diagnosis penyakit malaria. 
Termasuk di dalam jenis pemeriksaan mikroskopis ini adalah pemeriksaan QBC (Quantitative Buffy Coat). Pada pemeriksaan QBC dilakukan pewarnaan fluorescensi dengan Acridine Orange yang memberikan warna spesifik terhadap eritrosit yang terinfeksi oleh parasit Plasmodium. Plasmodium akan mengikat zat warna Acridine Orange sehingga dapat dibedakan dengan sel lain yang tidak terinfeksi. Kelemahan teknik ini adalah tidak dapat membedakan spesies dan tidak dapat melakukan hitung jumlah parasit. Selain itu juga reagensia yang digunakan relatif mahal dibandingkan pewarna Giemsa yang sering kita gunakan sehari-hari untuk pewarnaan rutin sediaan malaria.
2.            Pemeriksaan immunoserologis.
Pemeriksaan secara immunoserologis dapat dilakukan dengan melakukan deteksi antigen maupun antibodi dari Plasmodium pada darah penderita, antara lain :
a.            Deteksi antigen spesifik.
Teknik ini menggunakan prinsip pendeteksian antibodi spesifik dari parasit Plasmodium yang ada dalam eritrosit. Beberapa teknik yang dapat dipilih diantaranya adalah :
- Radio immunoassay
- Enzym immunoassay
- Immuno cromatography
Penemuan adanya antigen pada teknik ini memberikan gambaran pada saat dilakukan pemeriksaan diyakini parasit masih ada dalam tubuh penderita. Kelemahan dari teknik tersebut adalah tidak dapat memberikan gambaran derajat parasitemia.
b.      Deteksi antibodi.
Teknik deteksi antibodi ini tidak dapat memberikan gambaran bahwa infeksi sedang berlangsung. Bisa saja antibodi yang terdeteksi merupakan bentukan reaksi immunologi dari infeksi di masa lalu. Beberapa teknik deteksi antibodi ini antara lain :
- Indirect Immunofluoresense Test (IFAT)
-  Latex Agglutination Test
- Avidin Biotin Peroxidase Complex Elisa
3.      Sidik DNA.
Teknik ini bertujuan untuk mengidentifikasi rangkaian DNA dari tersangka penderita. Apabila ditemukan rangkaian DNA yang sama dengan rangkaian DNA parasit Plasmodium maka dapat dipastikan keberadaan Plasmodium. Kelemahan teknik ini jelas pada pembiayaan yang mahal dan belum semua laboratorium bisa melakukan pemeriksaan ini.
F.     Penatalaksanaan dan Pencegahan Penyakit Malaria
ü  Terapi Umum
1.      Istirahat
tidak perlu istirahat mutlak
2.      Diet
Makanan biasa
  1. Medikamentosa
    - Obat pertama:
    Klorokin basa : 
    • Hari pertama 600 mg, disusul 300 mg setelah 6 jam.
    • Hari kedua dan ketiga masing-masing 300 mg atau dosis disedsrhanakan menjadi 2 x 300 mg/hari. Dosis total 1500 mg.
Pada plasmodium vivax ditambahkan primakin 15 mg/hari selama 14 hari hari diberikan bersama atau setelah pemberian klorokin, sedangkan pada Plasmodium falciparum diberikan 3 sampai 5 hari saja untuk mensterilkannya.

ü  Obat Alternatif
o   Amodiakin 3 x 200 mg hari pertama, disusul 2 x 200 mg pada 2 hari berikutnya.
o   Sulfadoksin-pirimetamin (Fansidar) dosis tunggal 2 – 3 tablet.
o   Kina (Quinine sulfat) 3 x 650 mg oral selama 7 – 14 hari
o   Meflokoin 15 sampai 25 mg/kg BB, dosis tunggal peroral atau terbagi dalam 2 dosis setiap 12 jam.
o   Halonfantrin dengan dosis 500 mg tiap 6 jam, total 1500 mg.
o   Qinghaosu, kinghaosu, dan Pironaridin.
Beberapa antimikroba dapat digunakan untuk malaria yaitu:
    • Tetrasiklin 4 x 250 mg/hari, 7 – 10 hari
    • Doksisiklin 2 x 100 mg/hari, 7 hari
    • Klindasimin 3 x 300 mg/hari, 7 – 10 hari
o Spiramisin 3 x 500 mg
    • Rifampisin 1 x (450 – 600) mg
    • Flouroquinolon
    • Sulfanamid
         Jenis pengobatan malaria :
1.      Kemoprofilaksis
jarang dilakukan.
          2.  Pada keadaan akut
a. Klorokin basa (lihat pada terapi umum di atas). Apabila terpaksa diberi obat secara parentral, diberikan klorokin 200 mg IM/6 jam, maksimal 800 mg/hari. b. Kina sulfas.
Kina HCl dalam NaCl fisiologis/dextrosa 5% dalam waktu 4 jam infus dan diulangi 12 jam kemudian, maksimal 1800 mg/24 jam.
3. Terapi supresif
 agar tidak timbul serangan malaria. jenis obat yang digunakan :
a. Klorokin untuk :
v  Pendatang sementara ke daerah endemis. Dosis klorokin: 300 mg/minggu, 1 minggu sebelum berangkat, selama berada di lokasi sampai 4 minggu setelah kembali.
v  Penduduk di daerah endemis dan penduduk baru yang akanm menetap tinggal, dianjurkan menelan klorokin 300 mg/minggu selama 6 tahun atau amodiakin 600 mg/2 minggu.
v  Semua penderita demam di daerah endemis diberi klorokin dosis tunggal 600 mg. Bila di daerah itu plasmodium falsiparum sudah resisten terhadap klorokin, ditambahkan primakin sebanyak 3 tablet.
b. Mepakrin 100 mg/hari dimulai 2 minggu sebelum sampai hingga 4 minggu      setelah keluar dari daerah endemis tersebut.
c. Pirimetamin (Daraprim) 50 mg/minggu sampai dengan 4 minggu setelah meninggalkan daerah tersebut.
d. Proguanil 100 mg/hari atau 300 mg dosis tunggal/minggu sampai dengan 4 minggu setelah kembali.
e.  Kina 1 tablet (250 mg)/hari sampai dengan 4 minggu setelah meninggalkan lokasi
4. Terapi radikal
 untuk menghilangkan seluruh parasit malaria dalam tubuh, diberikan obat :
o    Klorokin, seperti terapi akut bersama dengan primakin 15 mg selama 14 hari.
o    Pirimetamin + sulfadoksin (FANSIDAR) plus primakin.
5.       Terapi kasus-kasus khusus
a.       Malaria serebral, dirawat di ruangan perawatan intensif (ICU). Obat diberikan parentral adalah :
v  Klorokin 200 mg IM, diulangi 6 jam kemudian. Dosis maksimal 800 mg/hari, hati-hati!
v  Kina hidroklorida dalam NaCl fisiologis/dextrosa 5% dalam waktu 4 jam, diulangi 12 jam kemudian. Dosis maksimal 1800 mg/24 jam. kalau sudah sadar diteruskan dengan pemberian peroral 3 x 650 mg – 7 hari sejak hari pertama pemberian.
v  Kinidin (isomer kina) 15 mg basa/kg BB dalam larutan seperti pada kina. Dilanjutkan peroral setelah sadar.
v  Dekstran molekul rendah, 500 cc/24 jam
v  Bila ada hipoglikemi, diberikan 50 ml glukosa 40% IV, lalu diteruskan dengan dekstrose 10%.
v  Ada yang berhasil dengan pentoksifilin 600 mg/hari plus kini dan klindasimin
v  Bila kejang-kejang diberikan : fenobarbital 3,5 mg/kg BB: Diazepam 10 -20 mg/IV atau klorpromazin 50 – 100 mgIM
v  Pentoksifilin 600 mg/hari
v  Kinin + klindasimin
b.      Gagal ginjal akut
Perlu dipertimbangkan hemodialisis secepatnya, pengaturan cairan dan elektrolit
c.         Malaria biliosa
Tidak ada tindakan khusus. Kina dapat diberikan 20 mg/kg.
d.       Hipoglikemi
Apabila kadar gula darah sangat rendah (40 mg%), segera berikan 40 – 50 ml dekstrosa 40% bolus, lalu dilanjutkan glukosa 10%/infus. Dapat juga diberikan obat yang menekan prodoksi insulin sepereti diazoxide, glukagon atau somastatin analogue
e.        Malaria Algid
Terutama ditujukan untuk mengatasi syok yang ada.
f.        Edema paru
Karena edema paru umumnya fatal, yeng terpenting adalah pencegahannya seperti : pemberian cairan harus hati-hati, transfusi darah pelan-pelan, pemberian diuretika
g.      Anemi berat
Transfusi darah pelan-pelan (lebih baik darah segar) bila Hb gr% atau hematokrit turun
h.       Black water fever
§  Harus istirahat
§  Menghentikan muntah dengan sedatif atau transkuiliser (klorpromasin, diazepam)
§  Bila hipotensi, secepatnya diberi cairan plasma atau darah
§  Transfusi bila Hb gr% atau RBC juta/mm3.
§  Bila ureum 200 mg%, perlu hemodialisis
§  Bila parasitemi tinggi diberikan klorokin atau amodiakin. Bial resisten diberikan sulfadoksin + pirimetamin.
i.         Malaria pada ibu hamil
§  Klorokin
Dosis seperti terapi umum di atas (600 mg –>300 mg: 300 mg: 300 mg)
§  Pirimetamin + sulfadoksin (FANSIDAR) 1 x 3 tablet
Pencegahan malaria
adalah hal yang patut dilakukan apalagi pada daerah tropis atau sub-tropis karena rentan terhadap penyebaran malaria. Kebanyakan orang yang tinggal di daerah malaria lazim telah memperoleh kekebalan terhadap beberapa penyakit. Seseorang yang tidak memiliki kekebalan, perlu mengambil obat sebagai pencegahan penyakit malaria. Bahkan wanita hamil terkadang di rekomendasikan harus mengkonsumsi obat pencegahan karena risiko ke janin tertular infeksi bawaan. Pemberian obat anti-malaria masih dapat menginfeksi seseorang, antara lain   :
1. Insecticide-treated nets (ITNs)
Dari semua metode mencegah gigitan nyamuk, tidur dengan ITN kemungkinan adalah yang paling efektif karena nyamuk menggigit malam hari saat wanita tersebut tertidur. ITNs menurunkan kontak manusia dengan nyamuk dengan cara membunuh nyamuk bila hinggap atau dengan mengusir nyamuk tersebut.
Meskipun kelambu bisa juga dapat memberikan proteksi terhadap nyamuk, kelambu tersebut kurang efektif dibandingkan ITNs.
Perbandingan kelambu biasa dengan ITNs.

Kelambu Biasa

ITNs

ü Memberikan sedikit proteksi terhadap malaria
ü  Tidak membunuh atau mengusir nyamuk yang menyentuh kelambu
ü  Tidak mengurangi jumlah nyamuk

ü  Tidak membunuh serangga lain seperti kutu, dan kecoa
ü  Aman digunakan bagi wanita hamil, anak-anak, dan bayi
ü  Memberikan proteksi tinggi terhadap malaria
ü  Membunuh atau mengusir nyamuk yang menyentuh kelambu
ü  Mengurangi jumlah nyamuk di dalam dan luar kelambu
ü  Membunuh serangga lain seperti kutu, dan kecoa
ü  Aman digunakan bagi wanita hamil, anak-anak, dan bayi

 

Intermitten Prefentive Treatment

Intermitten preventive treatment (IPT) malaria dalam kehamilan adalah berdasarkan asumsi bahwa setiap wanita hamil yang tinggal di daerah dengan transmisi malaria yang tinggi memiliki parasit malaria di dalam darah atau plasentanya, baik wanita tersebut memiliki atau tidak memiliki gejala malaria. Penelitian menunjukkan  bahwa  IPT adalah strategi yang efektif dan dapat diterapkan untuk menurunkan resiko anemia berat pada primigravida yang tinggal di area malaria. Bahkan wanita yang baru mendapat dosis satu kali oleh karena terlambat memeriksakan kehamilannya, secara signifikan  mendapat manfaat dari intervensi ini.

Oleh karena itu WHO merekomendasi bahwa semua wanita hamil sebaiknya diberikan tiga dosis sulfadoksin-pirimetamin  (SP) setelah gejala quickening (terasanya gerakan bayi pertama kali) dan paling sedikit 1 bulan berikutnya. Mencegah parasit menyerang plasenta membantu fetus untuk berkembang secara normal dan mencegah berat lahir rendah.

IPT sebaiknya diberikan pada semua wanita hamil, baik yang memiliki gejala-gejala malaria maupun tidak, namun terutama sangat penting bagi wanita yang memenuhi kondisi seperti berikut:
-         Hamil yang pertama atau kedua
-         HIV positif
-         Usia antara 10-24 tahun
-         Memiliki anemia yang tidak dapat dijelaskan selama kehamilan
-         Tinggal di daerah dengan transmisi malaria rendah
-         Pindah dari daerah dengan transmisi malaria rendah
Cara-cara Pencegahan Malaria
1. Menghindari/mengurangi gigitan nyamuk
- Malam hari berada di dalam rumah
- Mengobati badan dengan obat anti nyamuk
- Memakai obat nyamuk bakar atau elektrik
- Pasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi
2. Membersihkan tempat-tempat istirahat nyamuk den memberantas sarang    nyamuk
- Membersihkan rumput dan semak-semak di tepi saluran air
- Melipat kain (baju) yang bergelantungan
- Mengusahakan keadaan didalam rumah tidak ada tempat yang gelap dan lembab
- Mengalirkan air yang menggenang
- Menimbun dengan tanah/pasir semua genangan di sekitar rumah
- Menjauhkan kandang ternak dari pemukiman penduduk
3. Membunuh nyamuk dewasa dengan menggunakan racun serangga seperti obat nyamuk bakar, semprot, elektrik dan indoor residual sparying (IRS) serta fogging.
4. Membunuh jentik-jentik nyamuk dengan menyebarkan ikan pemakan jentik
- Ikan kepala timah
- Ikan mujair

Pencegahan penyakit malaria bagi orang yang bepergian

sangat dianjurkan untuk selalu aware dengan pencegahan penyakit malaria.krna, tidak pernah tau kondisi obyektif daerah yang dituju.
Ada baiknya menghubungi kantor kesehatan ataupun pusat penanganan dan pencegahan malaria setempat. Mintalah informasi tentang jenis-jenis malaria di wilayah geografis tersebut, obat-obatan pencegahan, dan waktu musim untuk menghindari perjalanan wilayah endemik malaria.
Pencegahan penyakit adalah bagian penting dari pengelolaan penyakit malaria ini. Karena itu, temuilah dokter sebelum bepergian maupun setelah kedatangan dari suatu tempat. Beberapa obat biasanya akan direkomendasikan jika tempat tujuan adalah daerah endemik malaria. Pencegahan penyakit malaria adalah langkah awal yang tepat untuk mengurangi resiko terkena penyakit malaria.

MALARIA DAN KEHAMILAN

1.      Efek Malaria Pada Wanita Hamil
Banyak wanita hamil dengan parasit malaria dalam darahnya tidak memiliki gejala-gejala malaria. Meskipun seorang wanita hamil tidak merasa sakit, infeksi malaria tetap dapat mempengaruhi kesehatannya dan bayinya. Malaria meningkatkan kejadian anemia pada ibu, yang bila berat akan meningkatkan resiko kematian maternal. Malaria meyebabkan 2-15% anemia pada wanita hamil. Di Afrika, anemia yang disebabkan malaria dapat menyebabkan sebanyak 10.000 kematian maternal tiap tahunnya .     
Patogenesisnya sendiri hampir mirip preeklampsia, dimana pada malaria didapatkan sekuestrasi dan resetting yang dapat menyebabkan gangguan pada mikrovaskuler, sementara pada preeklampsia terjadi disfungsi endotel sehingga akan menyebabkan terjadinya mikrotrombosis pada mikrovaskuler. Keduanya akan menyebabkan hipoksia jaringan. Bedanya pada preeklampsia dengan kerusakan endotel, tromboksan A2 akan meningkat sehingga rasionya akan lebih besar dibandingkan prostasiklin, sehingga akan terjadi vasokonstriksi yang akan menyebabkan hipertensi. Sedangkan pada malaria, proses yang terjadi adalah vasodilatasi sehingga yang muncul biasanya hipotensi.
Plasenta merupakan tempat yang disukai untuk sekuestrasi dan perkembangan parasit malaria. Ruang intervili terisi oleh parasit dan makrofag sehingga mengganggu transport oksigen dan nutrisi ke janin. Hipertrofi vilus dan nekrosis fibroid villi dapat dilihat. Jaringan plasenta akan mengandung pigmen malaria (dengan atau tanpa parasit).

2.      Efek Kehamilan Pada Infeksi Malaria

Frekuensi dan beratnya penyakit parasit umumnya meningkat selama kehamilan akibat imunosupresi ringan karena peningkatan kadar kortisol. Terdapat bukti supresi pembentukan antibody dan imunitas seluler pada kehamilan, yang mungkin juga dipengaruhi oleh anemia.

Wanita hamil memiliki resiko lebih tinggi terkena infeksi malaria bila mereka:

-         Primigravida atau kehamilan kedua
-         Usia remaja
-         Imigran/pengunjung dari area dengan transmisi malaria rendah.
-         Terinfeksi oleh HIV/AIDS
Episode malaria meningkat secara signifikan sebanyak 3-4 kali lipat selama kehamilan trimester kedua dan ketiga, serta 2 bulan post partum. Kehamilan juga meningkatkan keparahan infeksi malaria falsiparum, terutama padda nulipara non imun

3.      Efek Malaria Pada Janin

Selama kehamilan, parasit malaria di dalam plasenta dapat mengganggu transfer oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin. Infeksi malaria pada ibu, akan meningkatkan resiko abortus spontan, stillbirth, kelahiran preterm, dan berat lahir rendah. Sekitar 5-14% dari bayi dengan berat lahir rendah dilahirkan oleh ibu dengan infeksi malaria, dan diperkirakan sekitar 3-5% dari kematian bayi dapat ditelusuri dari infeksi malaria pada ibu. Pada beberapa kasus, parasit malaria dapat melewati plasenta dan masuk ke darah bayi serta menyebabkan anemia pada bayi.
Resiko infeksi malaria pada janin adalah sebagai berikut:
        Demam tinggi, insufisiensi plasenta, hipoglikemi, anemia, dan komplikasi lain mengakibatkan mortalitas prenatal dan neonatal 15-17%, mortalitas yang disebabkan P. falciparum 33%.
        Abortus spontan, lahir prematur, lahir mati, insufisiensi plasenta, PJT, BBLR, dan gawat janin.
        Malaria kongenital: sangat jarang dan terjadi pada < 5% kehamilan dengan malaria, di mana gejala klinis yang timbul pada bayi yang lahir: demam, iritabilitas, problem minum, hepatosplenomegali, anemia, ikterik.

4.      Efek Malaria Pada Komunitas

        Menyebabkan orang sakit sehingga tidak bisa bekerja dan berpenghasilan
        Menyebabkan anak-anak sakit sehingga tidak bisa sekolah
        Dapat menyebabkan anemia kronik pada anak-anak, menghambat pertumbuhan           dan perkembangan intelektual serta mengganggu produktivitas masa depan di komunitas
        Menghamburkan sumber daya: biaya (pengobatan lebih mahal dari pencegahan), obat-obatan, waktu
        Menyebabkan kematian yang sebenarnya dapat dicegah, terutama pada
        kalangan anak-anak dan wanita hamil
Hubungan yang erat antara malaria dan kemiskinan dapat disimpulkan dari observasi yang  menunjukkan di mana malaria "tumbuh subur", di situlah kesejahteraan orang sangat rendah.

5.      Interaksi HIV/AIDS dan malaria dalam kehamilan
Studi menunjukkan bahwa infeksi HIV/AIDS selama kehamilan:
        Mengurangi resistensi wanita terhadap malaria
        Menyebabkan pengobatan malaria kurang efektif
        Menyebabkan peningkatan resiko masalah yang berhubungan dengan malaria dalam kehamilan
        Meningkatkan resiko pertumbuhan janin yang terhambat yang kemudian menyebabkan berat lahir rendah
        Meningkatkan resiko persalinan preterm
        Meningkatkan resiko anemia maternal
Nomor dosis
Jumlah tablet klorokuin (150 mg setiap tablet)

Saat pemberian klorokuin

1
4
Kunjungan pertama setelah usia kehamilan 16 minggu
2
4
Hari kedua setelah dosis pertama
3
2
Hari ketiga setelah dosis pertama
Tiap minggu
2
Tiap minggu untuk sampai melahirkan
JHPIEGO, 2003

Cara lain mencegah malaria
Wanita hamil memiliki resiko 2 kali lebih tinggi untuk digigit nyamuk disbanding wanita tidak hamil kemungkinan oleh karena kulit wanita hamil lebih hangat dibanding wanita tidak hamil.
-         Tutup pintu dan jendela dengan kawat nyamuk untuk mencegah nyamuk masuk ke rumah
-         Menghindari keluarnya rumah malah hari. Bila akan keluar:
      o       Gunakan pakaian yang menutupi seluruh lengan dan tungkai.
o       Gunakan repelen nyamuk berupa krim pada daerah kulit yang terekspos
o       Gunakan obat nyamuk bakar (terutama bila duduk di luar rumah) yang mengeluarkan asap. Asap tersebut mengusir nyamuk atau membunuhnya sewaktu terbang melewatinya.
-         Semprot kamar-kamar dengan insektisida sebelum tidur setiap malam. Oleh karena semprotan tersebut hanya efektif untuk beberapa jam, metode ini hanya digunakan sebagai kombinasi tindakan lain seperti pintu dan jendela yang berkawat nyamuk.
-         Secara langsung bunuh nyamuk dalam rumah dengan memukulnya.

DETEKSI DAN PENATALAKSANAAN MALARIA DALAM KEHAMILAN

1.Mengenali malaria pada wanita hamil
Malaria dapat tanpa dengan komplikasi. Meskipun malaria tanpa komplikasi dapat dengan mudah diobati, malaria dengan komplikasi dapat mengancam jiwa, sehingga membutuhkan pengenalan dan tatalaksana yang tepat. Tabel berikut merangkum tanda-tanda dan gejala-gejala malaria tanpa dan dengan komplikasi. Bila dicurigai hal lain selain malaria tanpa komplikasi, segera rujuk wanita tersebut.

Tanda-tanda dan gejala-gejala malaria tanpa dan dengan komplikasi
Tipe Malaria
Gejala dan Tanda yang biasanya ada
Gejala dan Tanda yang Kadang Ada
Tanpa Komplikasi
-          Demam
-          Menggigil, kaku
-          Sakit kepala
-          Nyeri otot/sendi
-          Kehilangan nafsu makan
-          Mual dan muntah
-          Nyeri false labor/kontraksi uterus
-          Splenomegali
Dengan Komplikasi
-          Gejala-gejala dan tanda-tanda di atas plus
-     -Pusing
-      -Sesak/kesulitan bernafas
-      -Mengantuk
-      -Pucat pada konjugtiva, bibir dalam, lidah,dan telapak tangan
-      -Pernafasan yang cepat
-      -Urin berwarna sangat gelap (seperti kopi/cola)
-          Kebingungan
-          Koma
-          Kejang
-          Ikterik hebat
-          Gejala dehidrasi hebat, terutama bila wanita tersebut telah berulang kali muntah: penurunan berat badan tiba-tiba, mata cekung, kulit lemas, mulut kering
-          Penurunan jumlah urin atau tidak ada urin sama sekali
-          Perdarahan spontan gusi, kulit, dan bekas tusukan pada vena

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
1.    Malaria adalah : Penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia, ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina.
2.    Parasit penyebab malaria (Plasmodium) :
Plasmodium falciparum (malaria tropika)
Plasmodium vivax (malaria tertiana)
Plasmodium malarie (malaria kuartana)
Plasmodium ovale (jarang, Indonesia Timur, Afrika )
3.    Tanda dan  gejala malaria ada 2 yaitu gejala malaria ringan yang terdiri dari stsadium dingin, stadium demam dan stadium berkeringat. Gejala malaria berat yang terdiri dari gangguan kesadarn, kejang-kejang, panas sangat tinggi, tubuh atau mata kuning dan tanda dehidrasi dan sesak napas.
4.    Patofisiologi malaria yaitu penghancuran eritrosit, Mediator endotoksin-makrofag, dan Sekuestrasi eritrosit yang terinfeksi
5.    Pemeriksaan Penunjang Penyakit Malaria antara lain pemeriksaan laboratorium, khusus dan penunjang malaria berat
6.    Penatalaksanaan dan Pencegahan Penyakit Malaria:
a.    Terapi umum terdiri dari istirahat,diet, dan medikamentosa.
Saran
1.      Supaya kita lebih berhati-hati terhadap penyakit malaria dan cara-cara pencegahan dini dalam pemutusan rantai nyamuk penyebab malaria.

2.      Sebagai bidan, supaya dapat memberikan penanganan dan pendidikan kepada ibu hamil terhadap dugaan dini penyakit malaria



DAFTAR PUSTAKA

Adiputro, Didiet, 2008. Malaria Masih Menghantui Indonesia, www.perspektif.net diakses tanggal 7 Maret 2013

Rampengan dan Laurent. 1997. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Buku kedokteran: EGC
Suriadi dan Rita Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta: PT Fajar Interpratama



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar